Semua kegiatan on farm yang dilaksanakan di kandang Komunal Ngudi Dadi Farm

Profil KTT Ngudi Dadi

Kelompok Tani Ternak (KTT) Ngudi Dadi didirikan pada tahun 2000 di Dusun Padureksa Desa Kedarpan Kecamatan Kejobong Purbalingga Jawa Tengah atas inisiasi beberapa orang masyarakat dan  Dinas Pertanian Kabupaten Purbalingga. Ngudi Dadi yang berarti nguri wuri sampun dadi memiliki makna yang cukup mendalam yaitu bekerja keras sampai berhasil. Masyarakat yang tergabung dalam kelompok Ngudi Dadi umumnya berprofesi sebagi petani dan buruh tani. Mereka mengusahakan beberapa komoditi pertanian seperti singkong, ubi, lada, kopi, dan lain-lain. Di sela-sela keseharian mereka diselingi oleh kegiatan beternak kambing. Biasanya selepas kerja di ladang, menyempatkan diri untuk mencari rumput sebagai pakan kambing yang kandangnya ada di samping rumah mereka. Kepemilikan kambing peternak anggota Ngudi Dadi masih bersifat sampingan dengan kepemilkan usaha kambing dibawah 10 ekor. Pada tahun 2016, Ngudi Dadi mendapatkan pengesahan dari Kemenkumham melalui Keputusan Mentri Hukum dan Hak Asasi manusia Republik Indonesia nomor AHU-0057492.AH.01.07.Tahun 2016 sebagai Perkumpulan Kelompok Tani Ternak Ngudi Dadi Desa Kedarpan.

Desa Kedarpan masuk ke dalam wilayah Kecamatan Kejobong. Luas wilayah Kecamatan Kejobong 3.998,580 Ha, dengan ketinggian beragam berkisar 60-80 m dpl. Temperatur maksimal 320C dan terendah 180C dengan rata-rata 27,250C, kelembaban 81persen dan dengan curah hujan 3.250 mm per tahun. Penggunaan lahan sebagai tanah tegalan dan kebun sebesar 1.921,266 Ha (51%) dari luas wilayah. Ditinjau dari aspek daya dukung untuk peternakan kambing, sistem pertanian lahan kering berupa tegalan dan kebun yang cukup luas (1.609,411 Ha) sangat mendukung ketersediaan hijauan pakan bersumber dari rumput alam maupun ramban (browse) serta hijauan berasal dari limbah pertanian. Limbah pertanian yang utama adalah daun kacang tanah, ketela pohon dan jagung.

Beternak kambing yang dilakukan melalui kegiatan pembibitan telah mendorong usaha peternakan kambing semakin berkembang dan berkelanjutan. Sampai tahun 2019 ini, jumlah anggota ternak Ngudi sekitar 50 orang. Kambing yang dikembangkan oleh masyarakat adalah kambing khas Kejobong yang merupakan keturunan kambing kacang dan kambing peranakan ettawa (PE). Ciri khas kambing ini yaitu kepala berwana hitam, tubuh berwarna hitam , hidung berbentuk cembung, garis punggung cekung, kuran tubuh kambing lokal (khas) Kejobong di antara (intermediate) kambing PE dan kambing Kacang. Rumpun Kambing Kejobong asal Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah, kini telah ditetapkan sebagai bagian dari Kekayaan Sumber Genetik Lokal berdasarkan Keputusan Menteri Pertanian Nomor 301/kpts/SR120/5/2017. Pada tahun 2018, Desa Kedarpan terpilih sebagai salah satu desa di Indonesia penerima program Desa Berdaya Sejahtera Mandiri (DESA BSM) dari Laznas Bangun Sejahtera Mitra Umat dan Bank Syariah Mandiri.

Fiqih Qurban

Assalamualaikum warohmatulloh wabarokatuh

Primen kabare sedulur kabeh? !!

Alhamdulilah tidak lama lagi kita akan memasuki hari raya Qurban. Sudah tau belum bahwa kewajiban berqurban merupakan perintah Allah yang ada dalam Al-quran dan ayatnya sudah sering kita baca. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman yang artinya, Maka shalatlah untuk Rabbmu dan sembelihlah hewan.” (QS. Al Kautsar: 2). Syaikh Abdullah Alu Bassaam mengatakan, “Sebagian ulama ahli tafsir mengatakan; Yang dimaksud dengan menyembelih hewan adalah menyembelih hewan qurban setelah shalat Ied”. Pendapat ini dinukilkan dari Qatadah, Atha’ dan Ikrimah (Taisirul ‘Allaam, 534 Taudhihul Ahkaam, IV/450. Lihat juga Shahih Fiqih Sunnah II/366). Dalam istilah ilmu fiqih hewan qurban biasa disebut dengan nama Al Udh-hiyah yang bentuk jamaknya Al Adhaahi (dengan huruf ha’ tipis).  

Udh-hiyah adalah hewan ternak yang disembelih pada hari Iedul Adha dan hari Tasyriq dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah karena datangnya hari raya tersebut (lihat Al Wajiz, 405 dan Shahih Fiqih Sunnah II/366). Semoga kia semua dimudahkan oleh Allah untuk bisa berkurban pada tahun ini,aamiin.   Yuu pilih hewan qurban yang diinginkan dengan berkunjung ke kandang Eduwisata Ngudi Dadi Farm atau search web kami www.ngudidadi.com   Wassalam !!!

sumber :  https://muslim.or.id/446-fiqih-qurban.html

Mengenal Kambing Kejobong

Asal–usul kambing Kejobong sampai sekarang belum ada yang menemukan atau belum diketahui, sebab Kambing Kejobong diperkirakan keturunan dari hasil persilangan antara kambing jawa lokal yang ada di daerah sekitar dengan kambing pendatang. Kemungkinan kawin silang dari hasil tersebut yang berpuluh-puluh tahun hingga sekarang yang ada di wilayah Kecamatan Kejobong dan sekitarnya

Nama Kambing Kejobong dikenal masyarakat (publik) sekitar tahun 1990. Pada tahun tersebut dinas peternakan Kabupaten Purbalingga mengadakan kegiatan pengobatan massal gratis pada ternak kambing di Kelurahan Margo Utomo Desa Kedarpan Kecamatan Kejobong, saat itu dihadiri oleh Kepala Dinas Bpk. Rivai S.Pt yang di dampingi oleh wartawan dari media cetak. Kebetulan kambing bisa kumpul cukup banyak, mayoritas warna bulu hitam, juga ada yang kendit. Kemudian wartawan tersebut menanyakan kepada tim keswan, kambing tersebut termasuk jenis apa kok kebanyakan warna hitam. Tim keswan, menyarankan untuk bertanya langsung kepada Bpk. Kepala Dinas. Dan beliau menjawab kambing tersebut adalah kambing Kejobong yang ada di Kecamatan Kejobong dan sekitarnya.

Ciri – ciri kambing Kejobong secara umum sebagai berikut: 1) Warna bulu didominasi atau kebanyakan warna hitam, tapi ada yang hitam campur warna putih yang melingkar pada badan yang disebut kendit, juga ada yang hitam palang putih; 2) Bentuk kepala sedang, tidak lancip seperti kambing kacang, juga tidak melengkung / bukung seperti kambing PE; 3)Telinga : pendek, lebar (kira – kira 15-20 cm dan 7-1- cm) tidak melipat seperti kambing PE; 4) Tanduk miring ke belakang, juga ada yang membengkak; 5)Bulu paha  tidak panjang seperti kambing PE; 6) Tinggi badan dewasa betina antara 50-70cm, sedang jantan berkisar 70-80cm; 7) Beranak kembar 2, 3 bahkan ada yang 4 ekor; 8) Interval beranak 3 kali dalam 2 tahun.

Alasan yang menjadi daya tarik masyarakat memilih kambing Kejobong adalah harga terjangkau bagi masyarakat menengah kebawah. Bibit betina umur ± 1th bisa diperoleh dengan harga ± Rp. 1.500.000 sedangkan yang jantan umur yang sama sekitar Rp. 1.700.000-2.000.000. Selain itu, Kambing Kejobong  Banyak diminati masyarakat Purbalingga karena mudah beradaptasi dengan lingkungan, baik iklim maupun dengan makanan

(Sumber : Dispertan.purbalinggakab.go.id)

Profil KTT NGUDI DADI

Kelompok Tani Ternak (KTT) Ngudi Dadi didirikan pada tahun 2000 di Dusun Padureksa Desa Kedarpan Kecamatan Kejobong Purbalingga Jawa Tengah atas inisiasi beberapa orang masyarakat dan  Dinas Pertanian Kabupaten Purbalingga. Ngudi Dadi yang berarti nguri wuri sampun dadi memiliki makna yang cukup mendalam yaitu bekerja keras sampai berhasil. Masyarakat yang tergabung dalam kelompok Ngudi Dadi umumnya berprofesi sebagi petani dan buruh tani. Mereka mengusahakan beberapa komoditi pertanian seperti singkong, ubi, lada, kopi, dan lain-lain. Di sela-sela keseharian mereka diselingi oleh kegiatan beternak kambing. Biasanya selepas kerja di ladang, menyempatkan diri untuk mencari rumput sebagai pakan kambing yang kandangnya ada di samping rumah mereka. Kepemilikan kambing peternak anggota Ngudi Dadi masih bersifat sampingan dengan kepemilkan usaha kambing dibawah 10 ekor. Pada tahun 2016, Ngudi Dadi mendapatkan pengesahan dari Kemenkumham melalui Keputusan Mentri Hukum dan Hak Asasi manusia Republik Indonesia nomor AHU-0057492.AH.01.07.Tahun 2016 sebagai Perkumpulan Kelompok Tani Ternak Ngudi Dadi Desa Kedarpan.

Desa Kedarpan masuk ke dalam wilayah Kecamatan Kejobong. Luas wilayah Kecamatan Kejobong 3.998,580 Ha, dengan ketinggian beragam berkisar 60-80 m dpl. Temperatur maksimal 320C dan terendah 180C dengan rata-rata 27,250C, kelembaban 81persen dan dengan curah hujan 3.250 mm per tahun. Penggunaan lahan sebagai tanah tegalan dan kebun sebesar 1.921,266 Ha (51%) dari luas wilayah. Ditinjau dari aspek daya dukung untuk peternakan kambing, sistem pertanian lahan kering berupa tegalan dan kebun yang cukup luas (1.609,411 Ha) sangat mendukung ketersediaan hijauan pakan bersumber dari rumput alam maupun ramban (browse) serta hijauan berasal dari limbah pertanian. Limbah pertanian yang utama adalah daun kacang tanah, ketela pohon dan jagung.

Beternak kambing yang dilakukan melalui kegiatan pembibitan telah mendorong usaha peternakan kambing semakin berkembang dan berkelanjutan. Sampai tahun 2019 ini, jumlah anggota ternak Ngudi sekitar 50 orang. Kambing yang dikembangkan oleh masyarakat adalah kambing khas Kejobong yang merupakan keturunan kambing kacang dan kambing peranakan ettawa (PE). Ciri khas kambing ini yaitu kepala berwana hitam, tubuh berwarna hitam , hidung berbentuk cembung, garis punggung cekung, kuran tubuh kambing lokal (khas) Kejobong di antara (intermediate) kambing PE dan kambing Kacang. Rumpun Kambing Kejobong asal Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah, kini telah ditetapkan sebagai bagian dari Kekayaan Sumber Genetik Lokal berdasarkan Keputusan Menteri Pertanian Nomor 301/kpts/SR120/5/2017. Pada tahun 2018, Desa Kedarpan terpilih sebagai salah satu desa di Indonesia penerima program Desa Berdaya Sejahtera Mandiri (DESA BSM) dari Laznas Bangun Sejahtera Mitra Umat dan Bank Syariah Mandiri.

Desa BSM

Tingkat kemiskinan di Indonesia sampai September 2017 mencapai 26,58 juta atau sekitar 10,12%. Dari angka tersebut sekitar 16,31 juta atau sekitar 61% merupakan penduduk yang berada di wilayah pedesaan. Selain faktor kultural dan faktor ekonomi makro, masih tingginya tingkat kemiskinan di pedesaan disebabkan oleh beberapa hal antara lain : belum optimalnya pemanfaatan sumberdaya lokal akibat kurangnya pengetahuan dan keterampilan masyarakat, serta semakin terbatasnya sumberdaya bagi penghidupan masyarakat desa.

Selain itu, tingginya kemiskinan di desa juga disebabkan belum meratanya pelaksanaan program pembangunan desa. Selama ini pembangunan lebih terkonsentrasi di kota, padahal jumlah desa lebih banyak dibandingkan kota. Walaupun terjadi pembangunan di desa, namun seringkali mengabaikan aspek sosio kultur serta lingkungan bahkan cenderung berdampak negatif dengan berkurangnya sumber-sumber penghidupan di desa yang pada akhirnya semakin meningkatnya kemiskinan. Oleh karena itu orientasi pembangunan desa seharusnya diarahkan pada penguatan atau optimalisasi sumberdaya lokal (ekonomi) sehingga mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakatnya.

Bank Syariah Mandiri (BSM) sebagai lembaga keuangan turut berupaya untuk memberikan kontribusi dan berperan aktif dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui program-program sosial. Terlebih saat ini setiap lembaga keuangan dituntut untuk melaksanakan program yang berkaitan dengan keberlanjutan keuangan (Sustainabile Finance) sebagaimana diaturdalam POJK Nomor 51 tahun2017.

Implementasi program Sustainable Finance Bank Syariah Mandiri diwujudkan dalam program BISA (BSM Intregated Social Action). Program BISA akan diimplementasikan dalam beberapa kegiatan dengan menyasar aspek sosial, ekonomi, pendidikan, kesehatan dan lingkungan. Pilot project yang berkaitan dengan aspek ekonomi yang saat ini sedang berjalan adalah program pengembangan ekonomi desa melalui penguatan sumberdaya lokal untuk mendukung ketahanan pangan. Pilot project tersebut pada tahun 2018 menyasar 3 (tiga) Desa, yaitu : Desa Rejo Asri di Lampung Tengah, Desa Kedarpan di Purbalingga,dan Desa Jati di Trenggalek.

Nama lain dari program tersebut adalah Desa Berdaya, Sejahtera, Mandiri (Desa BSM). Program Desa “BSM” akan dijalankan dengan pendekatan pemberdayaan atau pengembangan masyarakat. Pemberdayaan masyarakat dapat diartikan sebagai suatu proses membangun manusia atau sekelompok orang dengan cara meningkatkan kapasitas dan kualitas hidupnya, perubahan perilaku, dan pengorganisasian kelompok (masyarakat). Dampak dari pelaksanaan program juga diharapkan dapat dirasakan oleh masyarakat yang lebih luas

Dalam implementasi program tersebut, Bank Syariah Mandiri bekerjasama dengan Lembaga Amil Zakat Nasional (LAZNAS) BSM UMAT sebagai pelaksana teknis program termasuk melakukan pendampingan dan peningkatan kapasitas pemetik manfaat untuk petani maupun peternak. (Sukiaji)

Pembentukan Pengurus Koperasi Berkah Mandiri

Alhamdulilah dengan mengucap rasa syukur telah terbentuk pengurus Koperasi “Berkah Mandiri” pada tanggal 7 April 2019. Dengan mengoptimalkan peran emak-emak d Desa Kedarpan, diharapkan Koperasi Berkah Mandiri menjadi wadah yg mampu mendorong usaha yg penuh keberkahan dan terciptanya kemandirian.

Acara pembentukan pengurus Koperasi Berkah Mandiri berbarengan dengan Rapat Anggota Tahunan (RAT) Koperasi Serba Usaha (KSU) Berkah Mandiri. Acara dihadiri oleh lima puluh orang ibu-ibu yang merupakan istri anggota peternak KTT Ngudi Dadi serta dihadiri oleh Bapak Pancoro Wahyu dari Dinas Koperasi dan UKM Kabupaten Purbalinga. Ada tiga keputusan yang disepakati dari kegiatan RAT ini antara lain

  1. Anggota yang hadir menyepakati untuk menggunakan (mengakuisisi) Koperasi Berkah Mandiri untuk kegiatan Koperasi di Desa Kedarpan.
  2. Menyepakati pembentukan pengurus baru KSU Berkah Mandiri yaitu a) Ketua : M. Aris Darmansah ; b) Wakil Ketua : Moyenah ; c) Sekretaris : Erni ; d) Bendahara : Sunarti ; e) Seksi Simpan Pinjam : Kusmiati ; f) Seksi Usaha : Parsini, Septiani ; g) Seksi pemasaran : Barniah; Pengawas : Ahmad Mubarok, Jumono SH
  3. Menyepakati besaran simpanan pokok sebesar 100.000 dan simpanan wajib 10.000 perbulan. Simpanan pokok akan dicicil selama 10 kali.


Jenis-Jenis Kambing Budidaya

Kambing merupakan salah satu hewan ternak yang banyak dibudidayakan oleh peternak tradisional. Produksi dan konsumsi daging kambing di Indonesia memang tidak sebesar daging sapi apalagi bila dibandingkan dengan daging ayam.

Namun usaha ternak kambing cukup menjanjikan. Hingga saat ini ternak kambing banyak dilakukan oleh peternak tradisional. Persaingan antar peternak belum sesengit ayam atau sapi. Karena belum banyak perusahaan besar yang terjun ke usaha ternak kambing.

Selain diambil dagingnya kambing juga diambil susunya. Bahkan susu kambing disebut-sebut memiliki beberapa keunggulan dibanding susu sapi. Susu kambing pun lebih cocok untuk daerah Asia khususnya yang beriklim tropis karena memiliki butiran lemak yang lebih besar dibanding susu sapi. Selain itu susu kambing harganya lebih tinggi dibanding susu sapi.

Nama ilmiah kambing adalah Capra aegagrus, tidak ada yang tahu pasti sejak kapan manusia mulai mendomestikasi kambing menjadi hewan ternak. Saat ini banyak sekali jenis-jenis kambing yang bisa dibudidayakan. Masing-masing jenis memiliki keunggulan dan kelemahannya sendiri. Berikut ini beberapa jenis kambing yang populer dibudidayakan di Indonesia:

a. Kambing kacang

Kambing kacang merupakan jenis kambing lokal yang paling banyak dibudidayakan di Indonesia. Tubuh kambing kacang terbilang mungil dibanding jenis kambing lainnya. Namun memiliki ketahanan yang sangat baik terhadap alam dan penyakit daerah tropis. Karena sifatnya yang tahan banting dan tidak memerlukan perawatan yang ribet, kambing kacang banyak dibudidayakan secara subsisten atau sampingan.

Kepala kambing kacang berukuran kecil tanduknya pendek. Kedua telinganya berdiri tegak dengan janggut yang panjang. Ukuran kambing jantan dewasa bisa mencapai 30 kg sedangkan betinanya 25 kg.

Bulu kambing kacang tipis, warnanya putih, hitam, coklat dan kombinasi dari ketiga warna tersebut. Ciri khas lainnya pada kambing kacang jantan terdapat bulu yang tumbuh membujur mulai dari leher, pundak, punggung hingga ke ujung ekornya.

b. Kambing etawa/kambing jamnapari

Masyarakat sering keliru ketika menyebut jenis kambing etawa, biasanya yang dimaksud etawa oleh masyarakat adalah kambing peranakan etawa (PE). Sedangkan kambing etawa sendiri sebenarnya bernama kambing jamnapari dari daerah Etawah, India, yang dibawa pada tahun 1930-an oleh Hindia Belanda dan tahun 1947 oleh Presiden Sukarno. Di masa belanda kambing jamnapari ini dikembangkan di Kaligesing, Purworejo, Jawa Tengah. Sedangkan di masa Presiden Sukarno kambing etawa dikembangkan di Desa Senduro di kaki Gunung Semeru, Jawa Timur.

Jenis kambing jamnapari memiliki perawakan yang cukup bonsor. Kambing jantan bisa mencapai berat hingga 120 kg, sedangkan betinanya mencapai 90 kg. Kambing jamnapari merupakan kambing perah atau biasa diambil susunya. Produksi susunya bisa mencapai 2 liter per hari.

c. Kambing peranakan etawa (PE)

Kambing Peranakan Etawa

Kambing peranakan etawa. (Foto: alamtani)

Kambing peranakan etawa (PE) dikenal dengan sebutan kambing etawa. Jenis kambing ini merupakan persilangan antara kambing jamnapari dengan kambing lokal. Ada berbagai ras kambing etawa yang beredar di Indonesia, yang terkenal adalah ras senduro dan ras kaligesing. Kambing peranakan etawa ras senduro merupakan hasil persilangan antara kambing jamnapari dengan kambing menggolo, kambing lokal asal Lumajang. Sedangkan ras kaligesing merupakan silangan kambing jamnapari dengan kambing kacang.

Kelebihan kambing peranakan etawa adalah jenis kambing ini sama baiknya untuk dibudidayakan sebagai pedaging maupun penghasil susu. Keistimewaan inilah yang membuat banyak peternak kepincut membudidayakan peranakan etawa. Karena selain mendapatkan daging, mereka juga bisa memanen susunya.

Bobot kambing peranakan etawa bisa mencapai 120 kg untuk yang jantan dan 80 kg untuk betina. Bahkan untuk ras senduro yang berwarna putih, pernah dilaporkan ada peternak yang bisa mengembangkannya hingga 170 kg bagi yang jantan.

d. Kambing jawa randu

Kambing jawa randu merupakan persilangan dari kambing peranakan etawa dengan kambing kacang. Dilihat dari bentuknya, jenis kambing ini lebih menyerupai kambing kacang namun ukuran tubuhnya sedikit lebih besar. Demikian juga dengan perilakunya, lebih mirip kambing kacang yang suka berkeliaran atau digembalakan. Hanya saja kambing jawa randu bisa menyantap hijauan tidak hanya rumput-rumputan.

Meski tak sebesar dan segagah kambing peranakan etawa, kambing jawa randu juga bisa menghasilkan susu hingga 1,5 liter per hari. Perkembangan kambing jawa randu lebih cepat dari kambing kacang. Kambing jantan dan betina bisa mencapai bobot hingga 40 kg. Kambing ini banyak dibudidayakan sebagai hewan kurban atau akikah.

e. Kambing boer

Sebagaimana namanya kambing boer berasal dari Afrika Selatan. Kambing ini merupakan jenis kambing pedaging unggul. Pertumbuhannya sangat cepat untuk ukuran kambing. Menginjak usia 3 bulan sudah bisa mencapai bobot 35-45 kg. Kambing jantan dewasa yang berumur 2-3 tahun bisa mencapai bobot hingga 150 kg, sedangkan betinanya 90 kg.

Ciri-ciri kambing boer mudah dikenali. Badannya lebar dan panjang dengan kaki yang pendek. Bulunya dominan putih, pada bagian kepala berwarna coklat muda hingga coklat. Hidungnya cembung dengan telinga yang panjang menggantung ke bawah.

f. Kambing saanen

Kambing saanen berasal dari Swiss, terkenal sebagai jenis kambing penghasil susu yang handal. Produksi susunya bisa mencapai 740 kg selama masa laktasi. Namun kurang bisa beradaptasi dengan iklim tropis seperti Indonesia. Budidaya jenis kambing ni di Indonesia biasanya disilangkan dengan kambing lain yang lebih tahan terhadap iklim tropis.

(Sumber : https://alamtani.com/jenis-jenis-kambing)

Pelatihan Teknis Aplikatif Budidaya Kambing untuk Peternak di Desa Kedarpan (lanjutan)

Pada hari kedua pelatihan dimulai pada pukul 08.00. ada tiga orang pemateri yang memberikan pelatihan yaitu materi tentang kelembagaan yang diberikan oleh Bapak Darmono PPL Kejobong, Bapak Nur Asik materi pakan ternak, dan Bapak Edy Setyanto materi kesehatan ternak. Materi kelembagaan yang diberikan oleh Bapak Darmono berisi tentang tujuan dibentuknya kelompok, AD ART kelompok, kelengkapan kelompok, dan dinamika kelompok. Materi tentang kelembgaan diberikan selama 1 jam.

Materi kedua yaitu kesehatan ternak yang diberikan oleh drh. Edy Setyanta. Sebelum menjelaskan terkait dengan penyakit pada hewan ternak, pemateri memberikan gambaran terkait ciri-ciri ternak yang sehat antara lain ciri-ciri ternak yang sehat antara lain Bulu bersih dan mengkilap, gerakannya lincah, nafasnya normal, nafsu makan normal, lubang kumlah bersih berwarna ros, cuping hidung basah.

Penyakit pada hewan ternak disebabkan oleh beberapa hal antara lain bakteri, virus, parasite, dan gangguan metabolisme. Penyakit bacterial antara lain pink eye, pneumonia dan foot rot (busuk kuku). Sedangkan penyakit yang disebabkan virus antara lain ORF (dakangan), cacar (goat pox), Penyakit yang disebabkan oleh gangguan metabolic antara lain bloat/ tympani, kembung perut, milk fever (hypocalsemia), grasss tetani (hypomagnesemia), mencret/ diare. Penyakit yang disebabkan oleh parasite antara lain COCCIDIOSIS (Amoeba), KECACINGAN (Helminthiasis), KUDIS (Scabies dan Demodex), LALAT (Miasis), dan  Ringworm (Kurap).

Materi ketiga diberikan oleh Bapak Nur Asik S,Pt. terkait dengan manajemen pakan ternak. Pakan merupakan komponen penting dalam usaha peternakan, bahkan biaya produksi lebih dari 70 % digunakan untuk pakan. Untuk ternak Ruminansia, tanaman merupakan sumber pakan hijauan yang mutlak diperlukan dan harus tersedia baik secara kuantitatif maupun kualitatif. untuk memperoleh pakan yang berkualitas, maka ada beberapa persyaratan yang harus dipenuhi antara lain 1) Mengandung nilai nutrisi tinggi; 2) Mudah diperoleh; 3) Mudah diolah; 4)Tidak mengandung racun (anti nutrisi); 5)Harga murah dan terjangkau; 6)Butirannya halus dan bisa dihaluskan.

Beberapa limbah pertanian yang biasa digunakan untuk sumber pakan ternak antara lain bekatul, jagung, sorgum, dedak padi, gaplek, onggok, molase, bungkil kedelai, bungkil kacang tanah, bungkil kelapa, bungkil kelapa sawit, tepung daun turi, tepung daun ubi, tepung daun lamtoro, Hijaun yang biasa digunakan untuk pakan ternak antara lain Jenis Rumput-Rumput Jenis Legumi, Hijauan Dari Limbah Pertanian (kacang-kacangan),Jerami Padi,Jerami Jagung, daun tebu. (Darmansah)