Semua kegiatan on farm yang dilaksanakan di kandang Komunal Ngudi Dadi Farm

MIKROORGANISME LOKAL

Mikro Organisme Lokal atau yang biasa disebut sebagai MOL merupakan pengembangbiakan mikroorganisme yang dapat mempercepat penguaraian pupuk kandang menjadi pupuk organik dengan kandungan unsur lebih tinggi. Mikroorganisme lokal tersebut adalah cairan hasil fermentasi yang mengandung mikroorganisme hasil produksi sendiri dari bahan-bahan alami yang tersedia. MOL juga merupakan kumpulan mikroorganisme yang diternakkan, yang berfungsi sebagai starter dalam pembuatan bokasi atau kompos.

MOL terdiri dari beberapa komponen yaitu karbohidrat, glukosa, dan sumber mikroorganisme. Karbohidrat sebagai sumber nutrisi untuk mikroorganisme dapat diperoleh dari limbah organik. Bahan bahan yang diperlukan saat pembuatan MOL yaitu susu segar atau bisa juga menggunakan susu powder sebanyak 2 liter. Telur 4 buah, telur yang digunakan yaitu telur itik dengan tujuan agar mikroorganisme yang dihasilkan semakin banyak. Madu 250 ml sebagai sunber glukosa, kunir 250 gr dan air kurang lebih 18 liter. Sedangkan peralatan yang digunakan yaitu alat-alat yang masih sederhana yaitu parutan, pisau, timbangan analitik, baskom, drigen, dan pengaduk.

Mikroorganisme yang tumbuh dan berkembang pada suatu bahan dapat menyebabkan berbagai perubahan pada fisik maupun komposisi kimia, seperti adanya perubahan warna, kekeruhan, dan bau asam. Langkah pertama dalam pembuatan MOL yaitu mengubah kunir menjadi partikel partikel kecil dengan cara diparut. Selanjutnya campurkan madu dan telur ke dalam parutan kunir dan diaduk sampai rata. Tambahkan susu segar ke bahan yang sudah tercampur dan aduk kembali sampai rata. Setelah tercampur rata  masukkan bahan bahan tersebut ke dalam drigen, lalu tambahkan air sampai penuh dan tutup drigen rapat-rapat.

Keunggulan utama penggunaan MOL adalah murah bahkan tanpa biaya karena bisa menggunakan bahan limbah yang terdapat disekitar. Selain itu ada beberapa keuntungan lain yaitu mendukung pertanian ramah lingkungan, pembuatan serta aplikasinya mudah dilakukan, mengandung unsur kompleks dan mikroba yang bermanfaat dalam produk pupuk dan dekomposer organik yang dihasilkan. Namun, MOL juga memiliki kekurangan yaitu MOL belum diketahui oleh peternak-peternak lokal pada umumnya. Proses fermentasi MOL juga memakan waktu kurang lebih satu minggu baru bisa digunakan. (Aziz &Alvi, 2021)

Mengolah Limbah Kandang Jadi Pupuk Organik Cair

Salah satu kegiatan magang mahasiswa Fakultas Peternakan Unsoed pada awal tahun 2021 yaitu membuat Pupuk organik cair (POC). Pupuk organic cair adalah pupuk yang tersedia dalam bentuk cair, POC dapat diartikan sebagai pupuk yang dibuat secara alami melalui proses fermentasi sehingga menghasilkan larutan hasil pembusukan dari sisa tanaman, maupun kotoran hewan atau manusia. Pupuk organik cair terdiri dari mikroorganisme yang berperan penting dalam membantu pertumbuhan tanaman. Pupuk organik cair kebanyakan diaplikasikan melalui daun atau disebut sebagai pupuk cair daun yang mengandung hara makro dan mikro esensial. Pemberian pupuk organik cair harus memperhatikan konsentrasi atau dosis yang diaplikasikan terhadap tanaman. Dari beberapa penelitian menunjukkan bahwa pemberian pupuk organik cair melalui daun memberikan pertumbuhan dan hasil tanaman yang lebih baik daripada pemberian melalui tanah (Marpaung, 2014). Pernyataan tersebut didukung pula oleh Manulang, dkk (2014) dalam penelitiannya yang menyatakan bahwa pupuk organik cair yang di semprotkan melalui tubuh tumbuhan memiliki kelebihan yaitu mengurangi pencucian tanah, penguapan, dan fiksasi tanah yang dapat mebghilangkan unsur hara dalam tanah.

Pupuk organik cair dibuat dengan beberapa bahan organik diantaranya adalah feses kambing, molases, EM4, dan air. Pernyataan ini sesuai dengan pendapat Marpaung, dkk (2014) bahwa pupuk organik cair diolah dari bahan baku berupa kotoran ternak, kompos, limbah alam, hormon tumbuhan, dan bahan-bahan alami lainnya yang diproses secara alamiah selama 2 bulan. Dalam pemberian pupuk cair ini dapat disiramkan langsung ke akar maupun batang tanaman (Sepriyaningsih dkk, 2019). Perlatan yang digunakan dalam pembuatan pupuk organik cair yaitu tong penyimpanan (silo) sebagai tempat proses fermentasi, plastik sebagai penutup agar udara tidak masuk, ring pengunci tong/silo agar terkunci rapat tanpa udara, cangkul, ember, pengaduk, timbangan, dan karung sebagai tempat penampung feses kambing yang akan ditimbang.

Pembuatan pupuk organik cair diawali dengan menimbang bahan utama penyedia mikroorganisme tanah yaitu feses kambing sebanyak 20 kg, setelah itu feses kambing dimasukan kedalam tong/silo secara perlahan diselingi dengan penambahan air serta pengadukan, tambahkan molases setelah tong/silo terisi setengah bagian sembari diaduk agar merata, tambahkan pula bakteri EM4 dan aduk aduk terus hingga merata, masukan feses kambing secara bertahap dan air hingga tong/silo penuh, tutup tong dengan plastik lalu tutup kembalu dengan penutup tong/silo kemudian kunci dengan ring agar udara tidak masuk, diamkan selama 2 bulan. Molases berfungsi sebagai sumber makanan bakteri yang akan dikembangkan sedangkan EM4 merupakan mikroorganisme tambahan untuk menyempurnakan unsur hara dalam tanah. Proses pembuatan pupuk organik cair menerapkan proses fermentasi anaerob sebab prosesnya mengharuskan ketiadaan oksigen dalam silo/tong penyimpanan.

Pupuk organik cair mempunyai beberapa manfaat di antaranya dapat mendorong dan meningkatkan pembentukan klorofil daun dan pembentukan bintil akar pada tanaman leguminosae, sehingga meningkatkan kemampuan fotosintesis tanaman dan penyerapan nitrogen dari udara, dapat meningkatkan vigor tanaman, sehingga tanaman menjadi kokoh dan kuat, meningkatkan daya tahan tanaman terhadap kekeringan, cekaman cuaca, dan serangan patogen penyebab penyakit, merangsang pertumbuhan cabang produksi, serta meningkatkan pembentukan bunga dan bakal buah, serta mengurangi gugurnya daun, bunga, dan bakal buah (Marpaung, 2014). Pupuk organik cair memiliki kelebihan yaitu lebih baik dugunakan karena terhindar dari bahan-bahan kimia/sintetis serta dampak yang baik bagi kesehatan. Menurut Sepriyaningsih, dkk (2019) pupuk organik memiliki keunggulan yaitu unsur hara yang terkandung didalamnya lebih mudah diserap. Kekurangan pupuk organik cair yaitu memerlukan waktu yang lebih lama untuk siap digunakan. (Nuha, Dea, Fida 2021)

Manullang, G. S., Abdul, R., dan Puji, A., 2014. Pengaruh Jenis dan Konsentrasi Pupuk Organik

Cair Terhadap Pertumbuhan dan Hasil Tanaman Sawi (Brassica juncea L.) Varietas Tosakan. Jurnal Agrifor. 13(1): 33 – 40.

Marpaung, A.E, Karo, B, dan Tarigan, R. 2014. Pemanfaatan Pupuk Organik Cair dan Teknik

Penanaman Dalam Peningkatan Pertumbuhan dan Hasil Kentang (The Utilization of Liquid Organic Fertilizer and Planting Techniques for Increasing the Potato Growth and Yielding). Jurnal Horticultural. 24(1): 49 – 55.

Sepriyaningsih, Ivoni, S., dan Eka, L. 2019. Pengaruh Pupuk Cair Limbah Organik Terhadap

Pertumbihan dan Produktivitas Bawang Merah (Allium ascalonicus L.). Jurnal Biologi dan Pembelajarannya. 6(1): 32 – 35.p

Fermentasi Rumput Odot, Bank Pakan Andalan Ngudi Dadi Farm

Ngudi Dadi Farm mempunyai lahan pastura yang ditanami jenis rumput odot sekitar 1,5 Ha. Saat musim hujan, rumput tumbuh subur dan panen rumput odot sangat melimpah. Salah satu cara yang digunakan untuk mengawetkan pakan yang melimpah yaitu dengan membuat pakan fermentasi. Pakan fermentasi adalah pakan ternak hasil dari proses pemecahan senyawa organik dengan bantuan mikroorganisme diubah menjadi senyawa sederhana. Pakan fermentasi juga merupakan pakan alternatif yang dibuat dengan bahan lokal yang mudah didapat yang dapat disimpan dan bertahan dalam kurun waktu yang lama. Salah satu pakan fermentasi yaitu silase rumput odot. Rumput odot ini mudah didapat dan mudah dibudidaya seperti singkong yaitu dengan cara stek. Bahan yang diperlukan untuk membuat silase rumput odot untuk 1 drum besar/silo yaitu rumput odot 150-200kg, dedak 10kg, Mol (yang sudah dicampur molase) satu gembor (5liter), dan garam krosok 2kg.

Alat yang diperlukan untuk membuat silase rumput odot adalah chopper, drum besar/silo & alat penjepit drum, sekop, dan gembor. Cara  pembuatan silase rumput odot yaitu:

1. Siapkan mesin chopper, rumput odot, gembor, sekop, dedak, dan Mol.

2.  Rumput odot dipotong-potong menggunakan mesin chopper, kemudian diratakan di lantai.

4.  Tabur garam 2kg dan dedak 10kg lalu aduk dengan menggunakan sekop.

5. Tuangkan MOL dengan menggunakan gembor secara merata, lalu aduk

6. Setelah semua bahan tercampur rata, masukan ke dalam drum besar/silo.

7. Masukan rumput yang telah dirajang dan injak-injak sedikit demi sedikit sampai terisi penuh agar padat dan tidak ada rongga.

8. Tutup menggunakan plastic dan tutup drum lalu kunci supaya lebih aman dan rapat.

Kelebihan pakan fermentasi silase rumput odot yaitu bahan mudah didapat dan mudah dibudidayakan, Alternatif  pakan cadangan jika terjadi musim kemarau, Pakan awet dalam kurun waktu yang lama dan mampu menambah berat badan domba kambing.

Kekurangan dari pakan fermentasi silase rumput odot adalah Tidak baik untuk betina yang sedang bunting karena dapat menyebabkan keguguran dan membuat produksi susu menurun, penggunaanya harus bertahap yaitu sedikit demi sedikit karena bisa menyebabkan diare pada kambing . (Rudi & Alis, 2021)

Testimoni Pak Kades Kedarpan untuk Desa BSM Purbalingga

Assalamualaikum wr wb.
puji sukur kehadirat ALLOH SWT atas segala limpahan rahmat, berkah, serta nikmat kepada kita semua sehingga atas ijin ALLOH walau di masa pandemi kita semua masih diberi nikmat berkah serta kesehatan oleh ALLOH SWT.

Alhamdulilah dengan adanya program Desa BSM yang ada di Desa Kedarpan bisa lebih membangkitkan geliat semangat peternak yang tergabung dalam KTT Ngudi Dadi dalam menjalankan kegiatan mengelola ternaknya.

Perkembangan kelompok KTT Ngudi Dadi setelah ada program Desa BSM sangat baik. Dalam pemantaun kami pengurus serta anggota ada perubahan ke arah yang lebih baik, walaupun tentunya masih ada yg harus dievaluasi dan diperbaiki agar semakin baik dalam mengelola ternaknya. Harapannya manfaat dari program ini juga akan dirasakan lebih luas lagi oleh masyarakat khususnya di Desa Kedarpan.

Kehadiran Program Desa BSM di desa kami cukup positif diantaranya bisa membantu pemberdayan ekonomi masyarakat. Banyak masyarakat yg bisa mendapat penghasilan khususnya anggota KTT Ngudi Dadi.

Manfaat sosial yang memang kami rasakan dari kehadiran Laznas BSM dan Bank Syariah Mandiri yaitu pembagian zakat dan pembagian daging qurban. Hal tersebut merupakan manfaat langsung dari program Desa BSM yang bisa di rasakan oleh masyarakat kami.

Kami atas nama pribadi, Pemerintahan Desa Kedarpan, serta masyarakat mengucapkan banyak terimakasih kepada para pihak yang berkaitan dengan program desa BSM.

Harapan kami kedepan Program Desa BSM bisa lebih baik dan sukses agar bisa bermanfaat untuk kemaslahatan masyarakat di desa kami.

Sekian terimakasih mohon maaf bila ada tutur kata yg kurang berkenan.

Wasalammualaikum wr.wb.

Kedarpan 12-01-2021

Kades kedarpan
(Jumono.S,H)

Testimoni Kepala Dinas Pertanian Purbalingga

Bantuan ternak kambing sekaligus pendampingan pemeliharaan dan managemen pengelolaan dari Laznas BSM di Desa Kedarpan Kecamatan Kejobong sangat baik dan memberi kemanfaatan yang besar dan cukup luas. Disamping masyarakat penerima merasa terbantu, juga secara umum memberikan edukasi, pemahaman dan praktek secara langsung bagaimana cara beternak dengan baik, mengarah ke pemeliharaan intensif agar lebih tertib dan dapat dianalisa keuntungannya, lingkungan kendang yang lebih bersih dan sehat, sekaligus menjadi contoh bagaimana manajemen kelompok diterapkan secara profesional. Bahkan sampai pada pengembangan pemanfaatan potensi lokal bahan pakan ternak melalui fermentasi untuk meningkatkan efisiensi dan solusi penyediaan / stok pakan saat terjadi kemarau panjang.

Saat ini pemeliharaan ternak kambing dimaksud bahkan menjadi wahana edukasi bagi para siswa PAUD, TK, SD, SMP, SLTA bahkan menjadi wahana penelitian bagi mahasiswa maupun civitas akademika dari perguruan tinggi. Disamping itu pula menjadi wahana rujukan atau salah satu percontohan para petani peternak maupun kelompok tani ternak dalam pemeliharaan ternak secara komunal.

Tanpa mengesampingkan masih terdapat beberapa kekurangan yang perlu terus diperbaiki, kegiatan dimaksud sangat bermanfaat dan sangat positif. Semoga kedepan akan semakin berkembangan dan tumbuh usaha-usaha peternakan komunal sejenis yang lebih banyak dan lebih maju. Selamat, sukses dan terima kasih.

Mukodam, S.Pt

Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Purbalingga

Harga Kambing Tidak Terpengaruh Covid-19

Wabah Covid-19 atau biasa disebut oleh masyarakat virus corona telah berdampak banyak terhadap semua bidang kehidupan . Pada bidang pendidikan, semua sekolah di liburkan. Siswa dan guru kemudian belajar melalui media online menggunakan berbagai fasilitas pembelajaran online. Mereka yang bekerja di kantor dengan segala bidang jenis pekerjaan harus bekerja di rumah atau diistilahkan dengan work frome home. Bidang pariwisata sepi pengunjung dan banyak travel yang mencoba melakukan promosi dengan menurunkan harga yang sangat murah tapi tetap saja tidak berhasil. Pada bidang transportasi sangat terasa karena dengan pelarangan orang keluar rumah otomatis tidak ada yang melakukan perjalanan menggunakan bus, kereta, ataupun pesawat. Bahkan ojeg online di kota-kota besar yang menjadi andalan transportasi bagi pekerja yang super sibuk pun kini hanya bisa gigit jari karena sepinya order. Bidang kuliner pun sangat terdampak dimana banyak rumah makan atau restoran yang sepi tanpa pengunjung. Di kota-kota industri banyak pabrik yang terpaksa melakukan PHK besar-besaran karena tidak sanggup membayar operasional pekerja mereka.

Semua anggaran pemerintah banyak yang dialihkan untuk menangani wabah covid-19. Mentri BUMN Erick Tohir bahkan menginstrusikan anggaran mudik gratis tahun ini agar dialihkan menjadi dana bantuan penanaganan covid-19. Bisa dibayangkan akan ada “kehancuran ekonomi” di bidang transportasi. Para pengusaha di bidang transportasi harap-harap cemas. Seharusnya mereka panen raya mendapatkan keuntungan dari kultur mudik, namun tahun ini pemerintah sudah menghimbau warganya untuk tidak mudik. Pemerintah pusat juga sudah menginstrusikan agar tidak ada THR bagi pejabat negara dan dananya akan digunakan untuk menangani penyebaran wabah Covid-19.

Berbagai dampak covid-19 begitu sangat terasa di berbagai kota-kota besar di Indonesia. Jakarta yang menjadi episentrum covid-19 menjadi kota yang paling ketat dalam memberlakukan peraturan-peraturan yang tidak popoler dalam menangani kasus ini. Pada awal kemunculannya bahkan Gubernur DKI Jakarta berani mengistruksikan tempat-tempat wisata agar ditutup. Lalu bagaimana dengan kami yang tinggal di daerah jauh dari ibukota?

Secara umum sebenarnya kami yang jauh dari ibukota aman dari hiruk pikuk wabah ini. Permasalahan mulai muncul ketika banyak perantauan yang kembali ke daerah termasuk ke Purbalingga. Warga Desa menjadi panik dan ketakutan terpapar virus ini. Untuk mengatasi hal ini banyak desa yang membentuk Satgas Covid-19. Hampir setiap desa memasang portal dan memberhentikan setiap orang asing yang masuk ke wilayah mereka.

Salah satu potensi yang ada di Kabupaten Purbalingga dan daerah sekitarnya adalah peternakan. Banyak warga desa yang mengandalkan ekonominya dengan memelihara kambing atau domba. Isu Covid-19 pun sempat membuat saya dan para peternak lainnya khawatir. Kekhawatiran terbesar adalah saat idul adha nantinya apakah masih banyak orang yang memesan hewan qurban dengan kondisi ekonomi seperti ini.

Keraguan pun terjawab, ternyata dampak adanya pandemi covid-19 terasa bagi para pedagang yang membuka lapak di Jabotabek. Tidak diperbolehkannya mesjid-mesjid disana melaksanakan pemotongan hewan kurban membuat permintan hewan kurban domba kambing menurun drastis. Beberapa pedagang bahkan memutuskan untuk tidak jualan dulu karena khawatir tidak laku.

Tren Qurban peduli di masa pandemi menjadi kampanye yang cukup masif dilakukan oleh para peternak yang masih tetap berharap panen raya dari berkah Idul Qurban. Kami pun merasakan penjualan yang meningkat dari tahun sebelumnya. Banyak mudohi yang membeli hewan kurban di tempat kami dan mempercayakan penyalurannya. Ternyata tidak perlu strategi banting harga agar banyak pembeli, justru kecendrungannya banyak pekurban yang membeli kambing dengan harga yang normal seperti tahun sebelumnya. Alhamdulilah Idul Qurban tahun ini KTT Ngudi Dadi mampu menjual hewan kurban sebanyak 479 ekor dengan omset 1 milyar lebih.

Belajar Industrialisasi Breeding dari PT Kejora Pelita Semesta

Perkembangan usaha peternakan domba kambing setiap tahunnya semakin meningkat. Berdasarkan informasi dari Dinas Pertanian Kabupaten Purbalingga, setiap tahunnya tidak kurang dari sebelas ribu ekor domba kambing keluar dari Purbalingga saat hari raya Idul Qurban. Selain peternakan rakyat, saat ini mulai banyak bermunculan para pengusaha bermodal besar yang meramaikan usaha ini. Berbagai lembaga zakat pun beramai-ramai mendayagunakan dana ziswafnya melalui program-program berbasis peternakan.

Usaha yang dilirik oleh pemodal besar biasanya penggemukan (fattening) dengan rentang waktu pemeliharaan sekitar 3-4 bulan. Perputaran modal yang cepat menjadikan usaha ini begitu menggiurkan. Sedangkan bagian dari usaha hulu yaitu pembibitan (breeding) hanya dilakukan oleh peternak kecil dengan kepemilikan domba atau kambing yang sangat terbatas.

Ketidakseimbangan antara permintaan dan stok bakalan membuat usaha peternakan mengalami ancaman yang cukup serius. Sudah sangat sering terjadi penggunaan bakalan-bakalan betina yang disembelih untuk kegiatan qurban ataupun aqiqah. Hal ini dilandasi oleh mulai berkurangnya stok dan mahalnya harga domba/kambing jantan. Jika tidak ada kesadaran dari para pelaku usaha untuk menggiatkan kegiatan pembibitan dalam skala massal maka bisa diprediksi beberapa tahun ke depan kita akan sulit mencari hewan untuk qurban dan aqiqah.

Kegiatan pembibitan kini sudah mulai dilirik oleh pemodal besar yang berada di Kabupatan Pekalongan, Jawa Tengah. Industrialisasi Breeding dilakukan oleh PT Kejora Pelita Semesta dengan mengembangkan domba pejantan jenis Dorper yang dikawinkan dengan berbagai betina lokal yang ada di Indonesia.

Domba Dorper merupakan domba pedaging unggul hasil perkawinan silang yang dilakukan oleh Departemen Pertanian Afrika Selatan antara domba Dorset dan domba Persia kepala hitam. Nama “Dorper” untuk domba hasil perkawinan silang ini merupakan gabungan suku kata awal domba Dorset (Dor-) dan suku kata awal domba Persia (Per-). Karena keunggulannya sebagai domba pedaging, domba Dorper merupakan jenis domba kedua yang paling banyak dipelihara para peternak Afrika Selatan. Domba Dorper mampu hidup di daerah gersang dan beriklim tropis di Afrika Selatan. Karena itu, domba Dorper cocok diternakkan di Indonesia yang beriklim tropis sebagaimana iklim di negara asal domba Dorper ini, yaitu Afrika Selatan.

PT Kejora Pelita Semesta mendatangkan Domba Dorper sekitar 6 ekor, 3 ekor jantan dan 3 ekor betina dengan harga Rp 26.000.000 perekor. Kini, setelah tiga tahun, kegiatan riset yang dilakukan oleh perusahaan sudah mulai menghasilkan pejantan F1 dan sudah dirilis untuk dijual ke peternak-peternak rakyat. Keunggulan Domba Dorper dengan Domba biasa yaitu Domba ini bisa melakukan perkawinan dengan perbandingan jantan dan betina 1 : 25 sedangkan domba biasa hanya mampu melakukan perkawinan 1: 10 saja. Proses perkawinan akan dilakukan setiap hari dengan mengganti induk betina setiap sebulan sekali. persentase keberhasilan bisa mencapai 50%. Induk betina yang sudah positif bunting akan dipisahkan ke kandang laktasi sedangkan yang belum bunting terus dikawinkan hingga tiga bulan dikandang perkawinan. Jika sudah tiga bulan tidak bunting juga, maka dianjurkan untuk melepas induk betina tersebut karena bisa jadi kualitasnya tidak bagus.

Selain menghasilkan bibit unggul keturunan Dorper, PT Kejora Pelita Semesta juga menyeleksi domba keturunan kembar (Prolifik). Proses seleksi induk betina kembar akan dilakukan pada kebuntingan kedua dimana domba yang hanya melahirkan minimal dua anak akan dipertahankan sedangkan yang melahirkan satu anak akan dilepas. Perkembangan domba keturunan dorper sangat cepat dibandingkan domba lokal yang selama ini ada di Indonesia. Domba keturunan Dorper bisa mencapai pertumbuhan maksimal 8 kg perbulan sedangkan domba biasa hanya 3-4 kg perbulan. Konsumsi pakan domba keturnan Dorper lebih efisien dibandingkan dengan domba biasa.Kkebutuhan konsentrat perekor hanya 300 gram. Pemberian pakan pun dilakukan hanya pada pagi dan sore hari.

Industrialisasi breeding oleh PT Kejora Pelita Semesta memberdayakan masyarakat sekitar dengan tenaga kerja ngarit sekitar 19 orang dan tenaga kerja teknis sekitar 11 orang. Dengan kapasitas ternak mencapai 1600 ekor tentunya masih belum efisien dalam pengelolaannya karena diprediksi biaya yang dikeluarkan untuk tenaga kerja saja mencapai 50 juta rupiah perbulan. Namun demikian, upaya PT Kejora Pelita Semesta untuk membantu peternak memperoleh bibit unggul patut diapresiasi karena membantu keberlanjutan usaha peternak dan industri peternakan domba kambing di Indonesia.(Darmansah)

KTT Ngudi Dadi Studi Banding ke Ternak Barokah Bantul Yogyakarta

Pada tanggal 1 Oktober 2020 KTT Ngudi Dadi Kedarpan melaksanakan kegiatan studi banding. Studi  banding dilaksanakan ke Kandang Ternak Barokah Milik Mas Lukman yang terletak di Bantul, Yogyakarta. Kegiatan ini bertujuan agar peternak mampu melakukan kegiatan usaha ternak  dan mampu mengelola pakan ternak untuk mendukung kegiatan usaha breeding dan fattening. Sebanyak 40 orang peternak ikut dalam kegiatan studi banding. Tepat pukul 05.00 tim berangkat dari Desa Kedarpan. Selain peternak, Pak Kades Kedarpan juga mensupport dan mengikuti acara ini. Rombongan tiba di lokasi kandang Ternak Barokah sekitar pukul 11.00. Acara dimulai dengan sambutan dari Pak Lurah Kedarpan. Pak Lurah mengucapkan terimakasih atas penerimaan dari Mas Lukman dan memohon bimbingannya agar peternak bisa mendapatkan ilmu dan pengalaman. Mas Lukman menceritakan dari awal bagaimana beliau merintis usahanya. Beliau memiliki kandang 5 titik di sekitar Yogya dengan jumlah kapasitas rata- rata perkandang mencapai 1500 ekor–2000 ekor. Ada 3 unit usaha yang dijalankan oleh Mas Lukman yaitu Trading (perdagangan), Fattening (penggemukan)dan Breeding (Pembibitan).

Dari pengalaman Mas Lukman, penggemukan domba yang dilakukan menjelang qurban bisa mendapat keuntungan bersih minimal 600rb perekor. Kendala yang paling sering dihadapi dalam kegiatan breeding yaitu cempe tidak mau menyusui dan sering sekali kaki kejepit lantai kandang. Sering juga terjadi induk deprok hipokalsemik (kekurangan nutrisi sampe 6 bulan). Sebaiknya diberikan pakan yang cukup agar kejadian hipokalsemik tidak terjadi. Untuk mendukung usahanya, Mas Lukman juga mengembangkan swasembada pakan ternak dengan menanam salah satu komoditas yang produktivitasnya tinggi yaitu rumput pakchong. Kegiatan berakhir sekitar pukul 14.30. Setelah pemaparan dan diskusi, dilakukan sesi foto Bersama kemudian peternak melanjutkan perjalanan ke pantai Goa Cemara untuk berwisata.

Aki Mikhrodi dan Nini Samiah, Semangatnya Tak Kalah oleh Usia

(Profil Peternak Desa BSM Purbalingga)

Beternak kambing bagi sebagian besar orang di kampung merupakan kegiatan sampingan yang dilakukan selain menjadi buruh tani. Selepas pulang dari ladang, petani menyempatkan diri mencari pakan hijuan untuk kambing di rumahnya. Beternak bagi sebagian orang di kampung merupakan celengan atau tabungan yang sewaktu-waktu bisa dijual untuk mencukupi kebutuhan hidup. Harga kambing di beberapa pasar hewan di Sekitar Purbalingga pun akan terpengaruh oleh perilaku peternak. Saat musim masuk sekolah tiba dimana akan banyak biaya untuk masuk sekolah, peternak akan melepas kambingnya dan harga kambing cenderung turun.

Kisah perjuangan sepasang suami istri di Dusun Paduraksa Desa Kedarpan bisa menjadi penyemangat bagi kita generasi muda agar jangan jadi pemalas dan pantang menyerah. Aki Mikhradi dan Nini Samiah merupakan sepasang suami istri yang berprofesi sebagai peternak. Usia mereka sudah tidak muda lagi, Aki Mikhradi berusia sekitar 80 tahun sedangkan Nini Samiah sekitar 77 tahun. Mereka sangat bersemangat dalam memelihara ternak bantuan program Desa BSM Purbalingga.

“Maturnuwun yah mas nyong diparingi wedus katah” celetuknya kepada saya.

Nini Samiah tidak bisa berbahasa Indonesia, tetapi cukup bisa dimengerti oleh saya. Rasa terima kasih sering sekali beliau ucapkan dengan logat jawanya kepada saya.

“Kesel mas ngarit bae, tapi nyong seneng” lanjutnya. “Semangat yah Ni, moga Nini sehat wedus sehat yah Ni” begitu jawabku. Selalu terharu jika saya ke kandang bertemu Nini Samiah. Di usia senjanya mereka tekun berjuang untuk kesejahteraan hidup mereka.

Selain beternak, Aki Mikhradi dan Nini Samiah mencukupi kehidupan mereka dengan membuat anyaman perkakas dapur dari bambu dan mengumpulkan kayu bakar untuk dijual. Tidak banyak rupiah yang didapat akan tetapi cukup untuk menghidupi kehidupan mereka berdua. Kini mereka semakin bersemangat dalam beternak karena bibit kambing yang mereka pelihara sudah mulai beranak kembar. Jumlah kambing mereka sekarang sekitar 15 ekor dan sehat-sehat semua.

Senang rasanya bisa mendampingi masyarakat kecil yang mempunyai harapan dan semangat tinggi. “Nyong maturnuwun banget karo BSM diparingi wedus karo kandang apik” satu kalimat yang diucapkan oleh Aki Mikhrodi sebagai tanda terimakasih kepada BSM atas bantuan yang mereka dapatkan.

Cipto Waluyo, Ternak Jadi Harapan

(Profil Peternak Desa BSM Purbalingga)

Cipto Waluyo (50 tahun) adalah salah satu peternak yang tergabung dalam Kelompok Tani Ternak Ngudi Dadi Desa Kedarpan Purbalingga. Ketertarikan beliau dalam mengikuti program Desa Berdaya Sejahtera Mandiri Klaster Peternakan Kambing didorong oleh keinginannya untuk memperbaiki kehidupan ekonomi tanpa harus meninggalkan keluarga.

Seperti kebanyakan anak muda yang tinggal di desanya, saat muda Cipto mencoba peruntungan dengan merantau ke Ibu kota Jakarta. Pertama kali merantau ke Jakarta yaitu pada tahun 1983 dengan menjadi buruh bangunan. Dua tahun berselang Cipto muda mencoba peruntungan berjualan es di sekitar Kebayoran Lama karena merasa tidak berkembang saat menjadi buruh bangunan. Rupanya ibu kota belum berjodoh dengan Cipto muda, beliau kembali pulang ke Purbalingga demi dekat dengan keluarga. Saat itu beliau memilih profesi sebagai sopir bus dalam kota yang melayani trayek Purbalingga-Kejobong. Dengan penghasilan yang seadanya yaitu sekitar lima puluh ribu rupiah perhari Cipto coba bertahan demi dekat dengan keluarga tercinta. Selama periode tahun 1987 hingga tahun 2000 Cipto mencoba bertahan di Kota Purbalingga dengan menekuni profesinya sebagai sopir bus.

Rupanya Hasrat untuk merantau ke luar kota masih ada dan dipicu oleh kebutuhan keluarga yang cukup besar, Cipto akhirnya memutuskan untuk kembali mengadu nasib menjadi perantauan. Kali ini bukan ke Ibu kota, Cipto bersama saudara tirinya mencoba berjualan buku pelajaran anak SD dan SMP ke Sumatera dan Maluku Utara. Pikirnya daerah tersebut masih belum tinggi persaingannya sehingga diharapkan bisa memperbaiki ekonomi keluarga dengan mendapatkan keuntungan besar dari berjualan buku. Biasanya Cipto berjualan buku selama 3 bulan sekali setiap semesteran. Pada tahun 2010 hingga 2013 beliau merantau ke Riau sedangkan pada tahun 2013 hingg 2016 beliau merantau Ke Maluku utara. Ketika sedang pulang ke Purbalingga beliau masih menjalankan profesi sebagai sopir bus.

Beberapa tahun kemudian Cipto memutuskan untuk tidak lagi merantau berjualan buku. Rupanya berjualan buku tidak lagi menggiurkan karena adanya kebijakan pemerintah yang menghambat perkembangan bisnis penjualan buku bacaan anak SD dan SMP. Meninggalkan keluarga cukup lama tentunya bukan hal yang mudah dan kerinduan untuk berkumpul dengan keluarga mendorong dirinya untuk tinggal di desa saja.

Pria yang lahir pada tanggal 5 Februari 1969 kini sudah tidak muda lagi. Tentunya pengalaman pahit saat merantau cukup membuat dirinya lebih dewasa memandang kehidupan. Dia berpikir bahwasanya hidup bukan hanya melulu tentang uang, akan tetapi harus ada kasih sayang yang dibagi untuk keluarga. Setelah malang melintang di kampung orang, Cipto kembali pulang kampung ke Purbalingga. Beliau kemudian memilih  bertani antara lain dengan menanam singkong, jambu, dan menanam pisang. Hasil pertanian bisa dibilang cukup membantu penghasilan keluarga walau masa panennya tahunan. Pada tahun 2018, saat ada program Desa BSM dari LAznas BSM dan Bank Syariah Mandiri Cipto mencoba mendaftarkan diri. Cipto dengan lima puluh peternak lainnya saling bahu-mambahu membangun kandang komunal yang diberikan oleh Laznas BSM hingga mendapatkan bantuan kambing. Kambing yang didapatkan oleh Cipto dan peternak lainnya diberikan sebanyak 30 ekor dan diberikan bertahap.

Sangat disayangkan Cipto dan peternak lainnya mengalami kendala yang cukup besar yaitu tingginya tingkat kematian yang diakibatkan oleh penyakit. Walaupun demikian, Cipto dan peternak lainnya tetap bersemangat untuk memelihara kambing yang diberikan. Cipto juga berharap agar ada bantuan pendampingan dari sisi kesehatan hewan dari Tim UPT Keswan Purbalingga sehingga penyakit pada hewan ternak yang menimpa peternak di Desa Kedarpan bisa teratasi.

Cipto merupakan satu-satunya peternak yang mengikuti saran pendamping agar mau memelihara domba. Saran yang diberikan oleh pendamping dimaksudakan karena domba lebih tahan terhadap penyakit dan tidak akan tertular oleh kambing. Pada Idul qurban 1440 H. 4 ekor domba yang dipelihara Cipto terjual semua dengan harga Rp 6.200.000. Dari hasil penjualan ini Cipto mendapatkan keuntungan bersih 1.440.000 dan bisa menyetorkan untuk kas kelompok sebesar 20% dari keuntungan yang diperoleh. Selanjutnya Cipto kembali bisa membeli 2 ekor domba untuk dipelihara lagi yaitu induk betina dan anakan jantan seharga Rp 3.500.000. Rupanya keberhasilan Cipto menjual seluruh dombanya telah mendorong keinginan peternak lainuntuk memelihara domba. Maklum saja kultur peternak di Desa Kedarpan sedari kecil memelihara kambing membuat mereka kurang tertarik memelihara domba. Walau hargnya lebih murah dari kambing, kenyataanya domba lebih tahan terhadap penyakit sehingga layak untuk dijadikan usaha oleh peternak.

Saat ini Cipto Waluyo diberikan kepercayaan untuk memelihara 18 ekor domba sisa yang belum laku saat idul adha qurban 1440H. dengan kondisi hijuan yang cukup sulit didapat, Cipto mencoba mengoptimalkan keberadaan pakan alternatif yaitu gedebog pisang. Disaat peternak lain memanfaatkan kulit singkong untuk pakan ternak, langkah Cipto menjadi salah satu alternative yang kemudian diikuti oleh peternak lainnya. Maklum saja gedebog pisang diperoleh tanpa biaya sedangkan kulit singkong diperoleh dengan harga 15 ribu perkarung. Gedebog pisang yang digunakan Cipto dicampur dengan pakan tambahan pollar, ampas tahu, dan rumput odot. Untuk 20 ekor domba dan 6 ekor kambing, Cipto biasanya mencacah dua batang gedebog pisang, mencacah satu ikat rumput odot, lalu mencampurkannya dengan pollar 2kg dan ampas tahu 3kg. Dengan skema pemberian pakan seperti ini Cipto tidak dipusingkan dengan sulitnya mendapat pakan hijuan. Rupanya lambat laun apa yang dilakukan Cipto diikuti pula oleh peternak lainnya. Cipto dan peternak lain di Desa Kedarpan berharap bahwa program Desa Berdaya Sejahtera Mandiri yang digagas Laznas BSM dan Bank Syariah Mandiri bisa berkembang dan membantu mengangkat perekonomian di desanya sehingga tidak perlu lagi berangkat pergi merantau ke ibu  kota meninggalkan keluarga tercinta.