Mengolah Limbah Kandang Jadi Pupuk Organik Cair

Salah satu kegiatan magang mahasiswa Fakultas Peternakan Unsoed pada awal tahun 2021 yaitu membuat Pupuk organik cair (POC). Pupuk organic cair adalah pupuk yang tersedia dalam bentuk cair, POC dapat diartikan sebagai pupuk yang dibuat secara alami melalui proses fermentasi sehingga menghasilkan larutan hasil pembusukan dari sisa tanaman, maupun kotoran hewan atau manusia. Pupuk organik cair terdiri dari mikroorganisme yang berperan penting dalam membantu pertumbuhan tanaman. Pupuk organik cair kebanyakan diaplikasikan melalui daun atau disebut sebagai pupuk cair daun yang mengandung hara makro dan mikro esensial. Pemberian pupuk organik cair harus memperhatikan konsentrasi atau dosis yang diaplikasikan terhadap tanaman. Dari beberapa penelitian menunjukkan bahwa pemberian pupuk organik cair melalui daun memberikan pertumbuhan dan hasil tanaman yang lebih baik daripada pemberian melalui tanah (Marpaung, 2014). Pernyataan tersebut didukung pula oleh Manulang, dkk (2014) dalam penelitiannya yang menyatakan bahwa pupuk organik cair yang di semprotkan melalui tubuh tumbuhan memiliki kelebihan yaitu mengurangi pencucian tanah, penguapan, dan fiksasi tanah yang dapat mebghilangkan unsur hara dalam tanah.

Pupuk organik cair dibuat dengan beberapa bahan organik diantaranya adalah feses kambing, molases, EM4, dan air. Pernyataan ini sesuai dengan pendapat Marpaung, dkk (2014) bahwa pupuk organik cair diolah dari bahan baku berupa kotoran ternak, kompos, limbah alam, hormon tumbuhan, dan bahan-bahan alami lainnya yang diproses secara alamiah selama 2 bulan. Dalam pemberian pupuk cair ini dapat disiramkan langsung ke akar maupun batang tanaman (Sepriyaningsih dkk, 2019). Perlatan yang digunakan dalam pembuatan pupuk organik cair yaitu tong penyimpanan (silo) sebagai tempat proses fermentasi, plastik sebagai penutup agar udara tidak masuk, ring pengunci tong/silo agar terkunci rapat tanpa udara, cangkul, ember, pengaduk, timbangan, dan karung sebagai tempat penampung feses kambing yang akan ditimbang.

Pembuatan pupuk organik cair diawali dengan menimbang bahan utama penyedia mikroorganisme tanah yaitu feses kambing sebanyak 20 kg, setelah itu feses kambing dimasukan kedalam tong/silo secara perlahan diselingi dengan penambahan air serta pengadukan, tambahkan molases setelah tong/silo terisi setengah bagian sembari diaduk agar merata, tambahkan pula bakteri EM4 dan aduk aduk terus hingga merata, masukan feses kambing secara bertahap dan air hingga tong/silo penuh, tutup tong dengan plastik lalu tutup kembalu dengan penutup tong/silo kemudian kunci dengan ring agar udara tidak masuk, diamkan selama 2 bulan. Molases berfungsi sebagai sumber makanan bakteri yang akan dikembangkan sedangkan EM4 merupakan mikroorganisme tambahan untuk menyempurnakan unsur hara dalam tanah. Proses pembuatan pupuk organik cair menerapkan proses fermentasi anaerob sebab prosesnya mengharuskan ketiadaan oksigen dalam silo/tong penyimpanan.

Pupuk organik cair mempunyai beberapa manfaat di antaranya dapat mendorong dan meningkatkan pembentukan klorofil daun dan pembentukan bintil akar pada tanaman leguminosae, sehingga meningkatkan kemampuan fotosintesis tanaman dan penyerapan nitrogen dari udara, dapat meningkatkan vigor tanaman, sehingga tanaman menjadi kokoh dan kuat, meningkatkan daya tahan tanaman terhadap kekeringan, cekaman cuaca, dan serangan patogen penyebab penyakit, merangsang pertumbuhan cabang produksi, serta meningkatkan pembentukan bunga dan bakal buah, serta mengurangi gugurnya daun, bunga, dan bakal buah (Marpaung, 2014). Pupuk organik cair memiliki kelebihan yaitu lebih baik dugunakan karena terhindar dari bahan-bahan kimia/sintetis serta dampak yang baik bagi kesehatan. Menurut Sepriyaningsih, dkk (2019) pupuk organik memiliki keunggulan yaitu unsur hara yang terkandung didalamnya lebih mudah diserap. Kekurangan pupuk organik cair yaitu memerlukan waktu yang lebih lama untuk siap digunakan. (Nuha, Dea, Fida 2021)

Manullang, G. S., Abdul, R., dan Puji, A., 2014. Pengaruh Jenis dan Konsentrasi Pupuk Organik

Cair Terhadap Pertumbuhan dan Hasil Tanaman Sawi (Brassica juncea L.) Varietas Tosakan. Jurnal Agrifor. 13(1): 33 – 40.

Marpaung, A.E, Karo, B, dan Tarigan, R. 2014. Pemanfaatan Pupuk Organik Cair dan Teknik

Penanaman Dalam Peningkatan Pertumbuhan dan Hasil Kentang (The Utilization of Liquid Organic Fertilizer and Planting Techniques for Increasing the Potato Growth and Yielding). Jurnal Horticultural. 24(1): 49 – 55.

Sepriyaningsih, Ivoni, S., dan Eka, L. 2019. Pengaruh Pupuk Cair Limbah Organik Terhadap

Pertumbihan dan Produktivitas Bawang Merah (Allium ascalonicus L.). Jurnal Biologi dan Pembelajarannya. 6(1): 32 – 35.p

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *